Saturday, August 11, 2018

Mesir Kuno (3200-2180 SM)

Peta wilayah peradaban mesir kuno
Peradaban Mesir Kuno adalah peradaban regional tertua kedua, yang muncul setelah peradaban Sumeria. Jika orang-orang Sumeria yang membangun sistem drainase dan irigasi di rawa belantara tanah genting di lembah bawah Sugai Tigris dan Eufrat. Maka orang-orang Mesir juga melakukan hal sama dengan membuka rawa belantara di lembah bawah dan delta sungai Nil.

Orang-orang Mesir Kuno banyak mengadopsi kebudayaan nenek moyang Neolitik dan Chalelolitik. Selain itu mereka juga banyak mendapatkan pengaruh dari peradaban Sumeria. Dalam perkembangannya, peradaban Mesir menjelma menjadi salah satu peradaban paling maju pada masa kuno. Bahkan hingga saat ini, banyak peninggalan dari peradaban tersebut yang membuat peneliti-peneliti  masa modern berdecak kagum. 

Pusat Kehidupan Masyarakat Mesir Kuno

Berabad-abad sebelum berdirinya pemukiman pertama di Mesir Kuno, wilayah Sungai Nil bukan lah wilayah yang layak untuk dihuni. Secara keseluruhan sungai ini mengalir sepanjang 6.400 kilometer lebih. Sungai Nil dibentuk oleh dua sungai besar yang menyatu, yakni Nil Biru yang bermata air di Ethiopia dan Nil Putih yang bersumber di Uganda. Kedua sungai ini bersatu di Khartoum dan menjadi Nil yang sesungguhnya, dan dari sini mengalir lah sungai yang menyatu sepanjang 3.040 kilometer mengarah ke utara ke Laut Tengah.
Setiap tahun, hujan membasahi pegunungan selatan, air yang terkumpul kemudian mengalir dengan deras di sepanjang Nil, dan menggenangi daerah di sekitarnya.  Menurut Herodotus, “Jika Nil merendam tanah tersebut, seluruh Mesir menjadi lautan.” Banjir yang sedemikian rupa, menjadikan wilayah tersebut tidak berpenghuni.
Orang-orang yang nantinya menjadi pemukim pertama Mesir, masih bermukim di dekat pesisir Laut Merah dan berkelana ke Sahara. Iklim yang lembab menjadikan Sahara pada masa itu dapat ditumbuhi rumput dan berair, sehingga banyak ditinggali manusia. Akan tetapi pola cuaca panas dan kering tiba-tiba mengubah dataran Mesopotamia, termasuk Sahara menjadi gersang. Perubahan iklim menyebabkan penduduk Sahara berpindah ke timur, menuju lembah Nil yang terairi dengan baik.
Berkat berkurangnya curah hujan, Nil telah menjadi daerah layak huni. Pengungsi tersebut kemudian mendirikan pemukiman pertama di lembah Nil, sekitar tahun 5000-4000 SM. Para pengungsi pertama ini pada perkembangannya dikenal sebagai orang Mesir pertama.
Para pendatang tersebut menemukan cara untuk mengatasi banjir tahunan dengan menggali tempat penampungan untuk menyimpan air pada masa banjir, serta saluran untuk mengairi ladang di musim panas. Mereka membangun permukiman di kedua tepi, dan menanam biji-bijian di tanah subur lembah Sungai Nil. Selain bercocok tanam, mereka juga berburu binatang liar di sekitar Sungai Nil. Penduduk Lembah Nil semakin bertambah, setelah bergabungnya pendatang lain dari pesisir barat Laut Merah.

Berbeda dengan Sumeria, Lembah Nil memiliki kekayaan alam yang luar biasa, mulai dari mineral hingga binatang untuk dimakan tersedia. Hanya kayu yang sulit diperoleh di tempat tersebut. Kondisi yang sedemikian rupa, menjadikan orang-orang Mesir sangat bergantung pada sumber daya alam di sekitar Sungai Nil. Bagi Mesir Kuno, Sungai Nil berperan layaknya laut bagi Inggris dan Alpen bagi Swiss. Nil membentuk perekonomian, dan menentukan struktur politik Bangsa Mesir.
Mesir adalah “hadiah pemberian sungai”, tulis Herodotus. Tanpa Sungai Nil, negeri tersebut tandus: berkat adanya Nil, para firaun (pharaoh) memerintah salah satu negeri paling makmur selama hampir seribu tahun.

Raja Scorpion dan Pendirian Dinasti Mesir Kuno

Pendirian pemukiman Mesir Kuno, menandai kemunculan peradaban baru di wilayah Mesir. Seiring dengan perkembangannya, penduduk Mesir terbagi menjadi dua wilayah. Pertama, kota-kota di bagian selatan yang mengidentifikasikan diri sebagai bagian dari Kerajaan Putih atau sering disebut Kerajaan Mesir Hulu. Kedua, aliansi kota-kota bagian utara yang membentuk Kerajaan Merah atau Kerajaan Mesir Hilir, dengan kota Heliopolis dan Buto sebagai kota yang paling berkembang.
Tahun 3200 SM, Mesir mengalami periode puncak masuknya pemukim baru.Nubt di jalur timur-barat yang mengarah ke tambang-tambang emas menjadi kota terkuat di selatan, sementara Hierankonpolis, yang dihuni 10.000 penduduk terletak tidak jauh dari sana.
 
Pada periode yang sama muncul seorang raja, yang berusaha menyatukan kedua kerajaan. Raja tersebut adalah Raja Kerajaan Putih, bernama Scorpion. Scorpion kemungkinan besar berasal dari Hierankonpolis. Ia adalah raja pertama yang mempunyai rencana untuk menggabungkan Kerajaan Putih dan Merah di bawah satu raja. Akan tetapi hasil dari kerja kerasnya tidak bertahan lama, karena kedua kerajaan kembali terpecah.
Satu abad kemudian atau sekitar tahun 3100 SM, raja selatan lain bernama Narmer mengikuti jejak Raja Scorpio. Ia kembali berusaha menyatukan kedua kerajaan. Kemungkinan besar Narmer adalah nama lain untuk Menes, yang muncul dalam daftar raja Mesir. Peleburan perbatasan antara kedua kerajaan tersebut menandai berdirinya dinasti pertama Mesir Kuno.
Menes merayakan kemenangan dengan membangun sebuah ibu kota di Memphis, sebagai titik pusat kekaisaran yang baru. Kota tersebut didirikan 32 kilometer di sebelah selatan bagian delta paling hulu, dekat tempat bertemunya Mesir hilir dan hulu. Memphis menjadi kota terbesar di negeri itu. Memphis bertahan sebagai ibu kota Mesir kuno, selama 400 tahun atau selama 18 firaun pengganti Menes. 

Sistem Pemerintahan Mesir Kuno

Salah satu yang menonjol dari peradaban Mesir Kuno adalah sistem organisasi pemerintahan yang sentralistis (unifikasi) dan efektif untuk mengatur Mesir dari air terjun pertama hingga Laut Tengah. Unifikasi politik dan administratif Meir terjadi pada periode awal pemerintahan Mesir Kuno. Sistem tersebut merupakan syarat politik yang memungkinkan pemeliharaan irigasi dan agrikultur di Mesir.
Kekuasaan kolektif manusia yang terkonsentrasi di tangan seorang penguasa seluruh Mesir, menghasilkan surplus sarana kehidupan masyarakat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pengelolaan tanah genting Mesir yang terorganisir menjadikan kebutuhan masyarakat tercukupi bahkan dapat dikatakan sangat makmur.
Pada masa awal itu telah dimulai pembentukan sebuah perangkat istana raja, pengumpulan pajak, dan sebuah sistem ekonomi yang memungkinkan Mesir menikmati kemewahan dengan menopang warga negara yang tidak menghasilkan makanan: imam-imam purna waktu untuk menyelenggarakan kurban bagi raja, pengrajin logam terampil menyediakan perhiasan untuk para bangsawan dan wanita biasa, sementara para juru tulis memegang pencatatan birokrasi yang tengah berkembang. 

Firaun / Pharaoh

Firaun adalah sebutan untuk penguasa absolut Mesir Kuno. Pada Mesir Kuno, mereka mengklaim sebagai penjelmaan Horus (dewa kehidupan) di bumi serta menyandang kekuasaan yang tidak lenyap di waktu malam atau dengan kematian. Ketika firaun meninggal, ia tidak lagi dipandang sebagai penjelmaan Horus, melainkan penjelmaan Osiris (dewa dunia bawah).

Gambaran Firaun
Selanjutnya putra dari firaun yang wafat menerima peran sebagai Horus yang menjelma. Penerapan kepercayaan teologis seperti itu, mempunyai kegunaan praktis sebagai sebuah cara untuk melegitimasikan penguasa pengganti. Raja yang baru bukan saja dianggap sebagai keturunan raja yang lama, melainkan juga dianggap sebagai reinkarnasi dari ayahnya.

Dari kepercayaan semacam itu, para firaun mempunyai kecenderungan untuk menikahi saudara perempuan dan terkadang anak perempuan mereka sendiri. Ketika seorang firaun menggantikan ayahya, ibunya (istri firaun sebelumnya) dalam arti tertentu menjadi istrinya juga, karena firaun adalah penjelmaan firaun sebelumnya.
Adjib, firaun keempat dari dinasti Pertama, menambahkan sebuah gelar nesu-bit keterangan pada gelar rajanya. Nesu-bit memiliki arti di atas dan di bawah, yang menandakan kekuasaan firaun di dunia atas dan dunia bawah. Nesu adalah kuasa pemerintahan ilahi, martabat rajawi atas yang beralih dari satu raja ke raja lain, sementara bit adalah penyandang fana dari kuasa itu, raja di bawah.

Mumi dan Tradisi Pemakaman Mesir Kuno

Bagi orang Mesir, hidup di akhirat adalah hidup badani, bukan penggantian berbentuk rohaniah. Jiwa meninggalkan badan pada saat kematian, tetapi menurut harapannya jiwa itu dapat kembali pada badan tadi. Oleh karena itu orang-orang Mesir sangat bernafsu untuk mengekalkan kehidupannya demi dirinya sesudah mati, dan mengejar tujuan akhirat secara lebih serius dibanding tujuan apa pun yang bisa diraih selama kehidupan di dunia.
Ketika raja-raja Dinasti Pertama melakukan pemakaman, oang-orang Mesir belum pernah membalsam orang mati. Prosesi pemakaman pun masih sangat sederhana, yakni badan raja dibungkus kain, yang kadang kala direndam di cairan damar. Akan tetapi, medode itu sama sekali tidak dapat mengawetkan mayat. Metode pengawetan mayat terus berkembang hingga akhirnya menghasilkan suatu tradisi perawatan bagi jenazah orang-orang Mesir yang dinamakan dengan pemumian.

Tidak ada bukti sejarah yang menggambarkan penggarapan jenazah menjadi mumi. Pengetahuan yang ada sekarang tentang proses itu (pembalseman, penggunaan minyak, garam, dll) sebagian besar berdasarkan tulisan Herodotus dan penyelidikan terhadap mumi sendiri.

Setelah pemumian dilaksanakan, mumi dimasukkan makam (makam di dalam piramid untuk firaun) bersama dengan barang-barang yang diharapkan akan diperlukan oleh yang mati dalam kehidupan barunya . Barang tersebut biasanya berupa makanan, alas kaki, perhiasasan,  serta mahkota atau tongkat jika ia seorang firaun.
Pemakaman dengan model pemumian, membutuhkan biaya yang sangat mahal. Bahkan, mahalnya biaya untuk mengawetkan jenazah melebihi kebutuhan mereka untuk merias diri selama hidup. Pada zaman Mesir Kuno, hanya firaun yang berhak hidup di alam akhirat, sehingga pemumian hanya dilakukan untuk seorang firaun.
Akan tetapi pada masa kerajaan baru, 11 abad kemudian, kehidupan akhirat merupakan hak semua orang Mesir, akibatnya tradisi pemumian semakin banyak dilakukan. Biaya yang sangat mahal mengakibatkan tidak semua rakyat Mesir saat itu dapat melakukan tradisi pemakaman selayaknya, orang-orang miskin menggunakan kain kafan sebagai pengganti peti dan melakukan penguburan di bawah timbunan pasir. 
 
Sekitar tahun 2630 SM, rakyat Mesir mulai membangun piramida sebagai makam raja-rajanya. Firaun pertama yang menggunakan piramida adalah firaun Djoser. Ketika Djoser wafat, ia tidak dikuburkan di pemakaman tradisional di Abydos. Ia telah membangun makamnya sendiri jauh di utara di kota Saqqara.
Selain itu, ia juga meninggalkan makam tradisional Dinasti Kedua yang terbuat dari bata lumpur. Makamnya terbuat dari batu dan harus tahan selamanya. Makam firaun mengalami pergeseran makna bukan lagi sebagai tempat keberangkatan untuk perjalan rohnya di dunia berikutnya, melainkan sebagai suatu tempat di mana sang firaun akan terus hidup.
Di sekeliling makam Djoser, ditata sebuah kota lengkap untuk rohnya atau sering disebut dengan nekropolis (kota arwah). Pada pusat kota arwah yang dibangun di atas makam itu sendiri berdiri lah piramida pertama Mesir: Piramida Berundak. Enam tingkat balok batu tegak menjulang ke ketinggian sekitar 70 meter. Di bawahnya, terdapat lorong-lorong menuju ke makam keluarga raja, yang digali di tanah di bawah lapisan terbawah.

Imhoteb, Wazir Djoser lah yang merancang dan memimpin pembangunan struktur yang ganjil itu. Imhoteb adalah orang pertama yang mendesain sebuah bagunan dari batu yang dipotong-potong. Piramida Berundak dapat dikatakan sebagai perluasan dari sebuah bentuk pemakaman Mesir purba. Kuburan-kuburan layaknya di Abydos dengan atap tertutup.

Piramida sendiri dibangun oleh suatu angkatan kerja laki-laki kekar yang terorganisasi yang dapat dibebaskan dari pekerjaan bertani dan berperang. Pembangunan piramida memerlukan kondisi negeri yang makmur. Hanya sebuah negara yang kuat dan berkecukupan yang mampu memberikan makanan serta pakaian utuk para pembuat piramida. Mesir telah mencapai suatu tingkat kemakmuran dan keteraturan pada masa tersebut. Oleh karena itu, mulainya abad piramida juga menandai awal suatu era baru dalam sejarah Mesir: Kerajaan Mesir Lama.
Paza zaman Kerajaan Lama, segera setelah seorang firaun naik tahta, maka dimuai lah proyek pembuatan piramid yang akan menjadi makamnya. Firaun mengerahkan tata kerja luas yang terdiri dari pekerja bangunan dan arsitek. Setiap desa mengirimkan sejumlah pekerja ke tempat  pembangunan, dan gudang kerajaan mengeluarkan peralatan serta pakaian.
Piramida terbesar dibangun pada masa Firaun Khufu sekitar tahun 2600-2500 SM. Piramida Besar itu sering juga disebut Piramida Giza, sesuai letaknya yang berada di Giza. Piramida Giza dibangun dengan 2 juta balok batu, yang rata-rata setiap batu mempunyai berat 2,5 ton.

Layaknya Piramida Berundak, Piramida Giza dibangun lengkap dengan kompleksnya. Kompleks tersebut tersusun dari: piramida utama, sebuah jalur pengantar ke bawah menuju sebuah kuil lembah, sebuah kuil untuk persembahan di sebelah timur, dan tiga piramida yang lebih kecil untuk para permaisuri khufu.
Piramida yang dibangun di dataran Giza itu memiliki puncak setinggi 160 meter. Sisi luar piramida sangat seragam, masing-masing sisi memliki panjang sekitar230 mter, dan di antara sisi hanya mempunyai selisih 20 cm.

Proyek besar dan berat itu membutuhkan waktu sekitar 23 tahun, pembangunan dikerjakan dengan peralatan sederhana, tanpa binatang pengangkut batu atau roda. Khufu mengerahkan salah satu dari regu pekerja yang paling besar di dunia. Banyak kisah yang menyatakan ketika Khufu memulai proyek pembangunan piramidanya, ia memperlakukn pekerja layaknya budak yang hina. Piramida itu sendiri merupakan tanda kesaksian atas kekuasaan absolut firaun.

Pada  zaman Khufu, tujuan asli dari nekropolis pertama yang dibangun Imhotep telah terkaburkan. Piramida yang seharusnya melambangkan kesakralan kepercayaan Mesir Kuno, berubah menjadi simbol dari kebesaran kekuasaan pembangunnya. Rumah roh telah menjadi peninggalan yang melambangkan kemegahan hidup seorang firaun.
Piramida terbesar kedua, dibangun oleh putra Khufu yang bernama Khafre. Khafre memerintah dalam periode waktu lama. Khafre memerintah selama 64 yahun menurut Manetho, dan 56 tahun menurut perhitungan Herodotus.
Seperti ayahnya, Khafre mencurahkan begitu banyak energi untuk membangun piramida, sehingga ia melalaikan dewa-dewa dan tidak membuka kembali tempat pemujaan. Selain itu ia juga memperlakukan para pekerja piramida layaknya budak, akibatnya rakyat Mesir sangat membencinya.

Piramida Khafre, yang sering disebut sebagai Piramida Kedua, hanya 10 meter lebih rendah daripada Piramida Besar Khufu. Meskipun demikian, Khafre membangun piramidanya di lahan yang lebih tinggi, sehingga pengunjung yang tidak begitu memperhatikan akan terkecoh dan mengira bahwa Piramida Kedua lebih tinggi. Khafre adalah pembangun terakhir piramida besar dan penguras terakhir energi rakyatnya. Penerusnya, Menkaure, dipaksa berhemat dan mengubah perilaku.
  • Patung Sphinx

Patung Sphinx
Khafre selain meninggalkan Piramida Kedua, ia juga meninggalkan monumen spektakuler lainnya, yakni Patung Sphinx. Patung yang terbuat dari batu kapur itu mempunyai bentuk misterius, sebagian singa, dan sebagian elang, dengan wajah manusia. Patung raksasa itu menatap ke arah timur.

Asal usul sosok sphix sendiri sama sekali tidak diketahui. Seperti halnya piramida, Sphinx juga telah memunculkan teori-teori tidak masuk akal tersendiri : mulai dari bangunan yang berumur 10.000 tahun, sebagai titik pusat energi global, hingga patung yang dibangun oleh makhluk Atlantis atau alien.
Penjelasan yang tidak masuk akal sebenarnya tidak perlu, karena patung tersebut sebenarnya mempunyai nilai simbolis bagi rakyat Mesir Kuno. Elang diidentifikasikan dengan Horus, sedangkan singa diidentifikasikan dengan matahari dan dengan demikian melambangkan dewa matahari Ra.
Patung Sphinx dipercaya menjaga tempat di mana jiwa akan berada secara abadi. Penambahan wajah pada patung itu adalah salah satu upaya firaun untk mengklaim identititas mereka. Kemungkinan Kahafre perlu menciptakan sebuah bukti baru keilahiannya, untuk meredam kebencian terhadapnya.

 
Sumber :      
Bauer, Susan Wise. 2010. Sejarah Dunia Kuno: Dari Cerita-Cerita Tertua sampai Jatuhnya Roma. Terj. Aloysius Prasetya. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Casson, Lionel. 1972.  Mesir Kuno: Abad Besar Manusia. Terj. Murad. Jakarta:Tira Pustaka.

Wednesday, August 1, 2018

Kerajaan Majapahit

https://sejarahdunia66.blogspot.com

Sejarah Kerajaan Majapahit


Pada saat terjadi serangan Jayakatwang,Raden Wijaya yang bertugas menghadang di bagian utara, ternyata serangan yang terjadi lebih besar justru dilancarkan dari selatan. Maka setelah Raden Wijaya kembali ke Istana, ia melihat Istana Kerajaan Singasari sudah hampir habis dilalap api serta mendengar Kertanegara telah terbunuh bersama dengan pembesar-pembesar lainnya. Akhirnya ia melarikan diri bersama sisa-sisa tentaranya yang masih setia serta dibantu penduduk desa Kugagu. Setelah merasa aman ia pergi ke Madura untuk meminta perlindungan dari Aryawiraraja. Berkat bantuannya itu ia berhasil menduduki tahta, dengan menghadiahkan daerah tarik kepada Raden Wijaya sebagai daerah kekuasaannya. Ketika tentara Mongol datang ke Jawa dibawah pimpin Shih-Pi, Ike-Mise, serta Kau Hsing dengan bertujuan menghukum Kertanegara, maka Raden Wijaya memanfaatkan situasi tersebut untuk bekerja sama menyerang Jayakatwang. Setelah Jayakatwang terbunuh, tentara Mongol berpesta pora merayakan kemenanganya. Kemudian Kesempatan tersebut juga dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk berbalik melawan tentara Mongol, sehingga tentara Mongol terusir dari Jawa serta pulang ke negrinya. Maka di tahun 1293 Raden Wijaya naik tahta serta bergelar Sri Kertajasa Jayawardhana.

Raja-raja Majapahit


Kertajasa Jawardhana (1293 – 1309)
https://sejarahdunia66.blogspot.com

ialah merupakan pendiri kerajaan Majapahit, di masa pemerintahannya, Raden Wijaya dibantu oleh mereka yang turut berjasa dalam merintis berdirinya Kerajaan Majapahit, dan karena Aryawiraraja yang sangat besar jasanya diberikanlah kekuasaan atas sebelah Timur meliputi daerah Lumajang, Blambangan. Raden Wijaya kemudian memerintah dengan sangat baik serta bijaksana. Susunan pemerintahannya tidak berbeda dengan susunan pemerintahan Kerajaan Singasari.

Raja Jayanegara (1309-1328)
https://sejarahdunia66.blogspot.com

Kala Gemet naik tahta setelah menggantikan ayahnya dengan mempunyai gelar Sri Jayanegara. Pada Masa pemerintahannnya ditandai dengan adanya pemberontakan-pemberontakan. Misalnya pada  pemberontakan Ranggalawe 1231 saka, pemberontakan Lembu Sora 1233 saka, pemberontakan Juru Demung 1235 saka, pemberontakan Gajah Biru 1236 saka, Pemberontakan Nambi, Lasem, Semi, Kuti dengan peristiwa Bandaderga. Pemberontakan Kuti ialah pemberontakan yang berbahaya, hampir meruntuhkan Kerajaan Majapahit pada saat itu. tetapi semua itu dapat diatasi. kemudian Raja Jayanegara dibunuh oleh tabibnya sendiri yang bernama Tanca. Tanca dibunuh pula oleh Gajah Mada.

Tribuwana Tunggadewi (1328 – 1350)
https://sejarahdunia66.blogspot.com

Raja Jayanegara meninggal tanpa meninggalkan seorang putrapun, Oleh karena itu yang seharusnya menjadi raja ialah Gayatri, tetapi karena ia telah menjadi seorang Bhiksu maka digantikan oleh putrinya Bhre Kahuripan dengan gelar sebagai Tribuwana Tunggadewi, dan dibantu oleh suaminya yang bernama Kartawardhana. Di tahun 1331 timbulah pemberontakan yang dilakukan oleh daerah Sadeng dan Keta (Besuki). Pemberontakan ini kemudian berhasil ditumpas oleh Gajah Mada yang pada saat itu menjabat sebagai Patih Daha. Atas jasanya ini kemudian Gajah Mada diangkat sebagai Mahapatih Kerajaan Majapahit menggantikan Pu Naga. Gajah Mada kemudian berusaha untuk menunjukkan kesetiaannya, dan ia bercita-cita menyatukan wilayah Nusantara yang dibantu oleh Mpu Nala serta Adityawarman. Pada tahun 1339, Gajah Mada bersumpah tidak makan Palapa sebelum wilayah Nusantara bersatu. Sumpahnya itu dikenal dengan nama  Sumpah Palapa,adapun isi dari sumpah palapa ialah sebagai berikut :



Kemudian Gajah Mada melakukan penaklukan-penaklukan.

  • Hayam Wuruk

Hayam Wuruk naik tahta pada usia yang sangat muda ialah 16 tahun serta bergelar Rajasanegara. Di masa pemerintahan Hayam Wuruk yang didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada , pada saat itu Majapahit mencapai keemasannya. Dari Kitab Negerakertagama lah maka dapat diketahui bahwa daerah kekuasaan pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk,ialah hampir sama luasnya dengan wilayah Indonesia yang sekarang, bahkan pengaruh kerajaan Majapahit sampai pada negara-negara tetangga. Satu-satunya daerah yang tidak tunduk kepada kekuasaaan Majapahit ialah kerajaan Sunda yang saat itu dibawah pimpinan Sri baduga Maharaja. Hayam Wuruk kemudian bermaksud mengambil putri Sunda untuk dijadikan permaisurinya. Setelah putri Sunda (Diah Pitaloka) serta ayahnya Sri Baduga Maharaja bersama dengan para pembesar Sunda berada di Bubat, Gajah Mada melakukan tipu muslihat, Gajah Mada tidak mau perkawinan Hayam Wuruk serta putri Sunda dilangsungkan begitu saja. Ia menghendaki agar putri Sunda itu dipersembahkan kepada Majapahit (sebagai upeti). Maka terjadilah perselisihan paham serta akhirnya terjadinya perang Bubat. Banyak korban dikedua belah pihak, Sri Baduga gugur, putri Sunda bunuh diri.

Pada tahun 1364 Gajah Mada meninggal, Kerajaan Majapahit kehilangan seorang mahapatih yang tak ada duanya. Untuk dapat memilih penggantinya bukan suatu pekerjaan yang sangat mudah. Dewan Saptaprabu yang sudah beberapa kali mengadakan sidang untuk dapat memilih pengganti Gajah Mada akhirnya memutuskan bahwa Patih Hamungkubhumi Gajah Mada ialah tidak akan diganti “untuk mengisi kekosongan dalam pelaksanaan pemerintahan diangkat Mpu Tandi sebagai Wridhamantri, Mpu Nala sebagai menteri Amancanegara serta patih dami sebagai Yuamentri. kemudian Raja Hayam Wuruk meninggal pada tahun 1389.

  • Wikramawardhana
Putri mahkota Kusumawardhani yang kemudian naik tahta menggantikan ayahnya bersuamikan Wikramawardhana. Dalam prakteknya Wikramawardhanalah yang menjalankan roda pemerintahannya. Sedangkan Bhre Wirabhumi anak Hayam Wuruk dari selir, dikarenakan Bhre Wirabhumi (Putri Hayam Wuruk) dari selir maka ia tidak berhak menduduki tahta kerajaan walaupun demikian ia masih diberi kekuasaan untuk dapat memerintah di Bagian Timur Majapahit , yaitu daerah Blambangan. Perebutan kekuasaan antara Wikramawardhana dengan Bhre Wirabhumi disebut dengan nama perang Paregreg.


Wikramawardhana kemudian meninggal tahun 1429, pemerintahan raja-raja berikutnya berturut-turut ialah Suhita, Kertawijaya, Rajasa Wardhana, Purwawisesa dan Brawijaya V, yang tidak luput ditandai perebutan kekuasaan.

Sumber Sejarah


Sumber sejarah mengenai berdiri serta  berkembangnya kerajaan Majapahit ini  yakni :

  • Prasasti Butok (1244 tahun).
Prasasti ini dikeluarkan oleh Raden Wijaya setelah Raden Wijayaberhasil naik tahta kerajaan. Prasasti ini kemudian memuat peristiwa keruntuhan kerajaan Singasari serta perjuangan Raden Wijaya untuk mendirikan kerajaan

  • Kidung Harsawijaya dan Kidung Panji Wijayakrama,
kedua kidung ini menceritakan Raden Wijaya yang ketika menghadapi musuh dari kediri serta tahun-tahun awal perkembangan Majapahit

  • Kitab Pararaton,
menceritakan tentang pemerintahan raja-raja Singasari serta Majapahit

  • Kitab Negarakertagama,
menceritakan tentang perjalanan Raja Hayam Wuruk ke Jawa Timur.

Kehidupan Politik


Majapahit selalu dapat menjalankan politik bertetangga yang baik dengan kerajaan asing, seperti Kerajaan Cina, Ayodya (Siam), Champa serta Kamboja. Hal itu terbukti sekitar  tahun 1370 – 1381, saat itu Majapahit telah beberapa kali mengirim utusan persahabatan ke Cina. Hal itu diketahui dari berita berita kronik Cina dari Dinasti Ming.

Raja kerajaan Majapahit sebagai negarawan ulung juga sebagai politikus-politikus yang baik. Hal tersebut dibuktikan oleh Raden Wiajaya, Hayam Wuruk, serta Maha Patih Gajahmada dalam usahanya mewujudkan kerajaan besar, tangguh serta berwibawa.


1. Raja  
2. Yuaraja atau Kumaraja (Raja Muda)
3. Rakryan Mahamantri Katrini

    a. Mahamantri i-hino  
    b. Mahamantri i-hulu  
    c. Mahamantri i-sirikan

4. Rakryan Mahamantri ri Pakirakiran

    a. Rakryan Mahapatih (Panglima atau Hamangkubhumi)
    b. Rakryan Tumenggung (panglima Kerajaan)
    c. Rakryan Demung (Pengatur Rumah Tangga Kerajaan)
    d. Rakryan Kemuruhan (Penghubung dan tugas-tugas protokoler)
    e. Rakryan Rangga (Pembantu Panglima)

5.Dharmadyaka yang diduduki oleh 2 orang, yang masing-masing dharmadyaka dibantu oleh sejumlah pejabat keagamaan yang biasa disebut Upapat. Pada masa hayam Wuruk ada 7 Upapati.


Selain pejabat-pejabat yang telah disebutkan diatas ,  dibawah raja ini adalah sejumlah raja daerah (paduka bharata) yang masing-masing memerintah pada suatu daerah. Disamping raja-raja daerah adapula pejabat-pejabat sipil ataupun militer. Dari susunan pemerintahannya kita dapat melihat bahwa sistem pemerintahan serta  kehidupan politik kerjaan Majapahit sudah sangat teratur.

Kehidupan Sosial Ekonomi dan Kebudayaan


Hubungan persahabatan yang dijalin dengan negara tentangga itu sangatlah mendukung dalam bidang perekonomian (pelayaran serta perdagangan). Wilayah kerajaan Majapahit terdiri atas pulau serta daerah kepulauan yang  dapat menghasilkan berbagai sumber barang dagangan.

Barang dagangan yang dipasarkan antara lain ialah seperti beras, lada, gading, timah, besi, intan, ikan, cengkeh, pala, kapas serta kayu cendana.

Dalam dunia perdagangan, kerajaan Majapahit memegang dua peranan yang terpenting , yaitu sebagai :

  1. Kerajaan Produsen – Majapahit mempunyai wilayah yang sangat luas dengan kondisi tanah yang juga sangat subur. Dengan daerah subur itulah maka kerajaan Majapahit  ialah produsen barang dagangan.
  2. Sebagai Kerajaan Perantara – Kerajaan Majapahit membawa hasil bumi dari daerah satu ke daerah yang lainnya. dalam Keadaan masyarakat yang teratur mendukung terciptanya karya-karya budaya yang bermutu.
bukti-bukti perkembangan dalam kebudayaan di kerajaan Majapahit juga dapat diketahui melalui peninggalan-peninggalan berikut ini :

  • candi Penataran (Blitar), 
  • Candi Tegalwang
  • candi Tikus (Trowulan).
  • Kitab Negarakertagama, karangan Mpu Prapanca
  • Kitab Sutasoma, karangan Mpu Tantular
  • Kitab Arjunawiwaha, karangan Mpu Tantular
  • Kitab Kunjarakarna
  • Kitab Parhayajna
  • Sastra Zaman Majapahit Akhir


  • Kitab Prapanca, isinya menceritakan raja-raja Singasari dan Majapahit
  • Kitab Sundayana, isinya tentang peristiwa Bubat
  • Kitab Sarandaka, isinya tentang pemberontakan sora
  • Kitab Ranggalawe, isinya tentang pemberontakan Ranggalawe
  • Panjiwijayakrama, isinya menguraikan riwayat Raden Wijaya sampai menjadi raja
  • Kitab Usana Jawa, isinya tentang penaklukan Pulau Bali oleh Gajah Mada dan Aryadamar, pemindahan Keraton Majapahit ke Gelgel dan penumpasan raja raksasa bernama Maya Denawa.
  • Kitab Usana Bali, isinya tentanng kekacauan di Pulau Bali.
  • Kitab Paman Cangah, Tantu Pagelaran, Calon Arang, Korawasrama, Babhulisah, Tantri Kamandaka serta Pancatantra

Sumber : gurupendidikan.co.id
google.com                   

Kerajaan Banten

Sejarah Kerajaan Banten



https://sejarahdunia66.blogspot.com

Pada awal abad ke-16, daerah pajajaran yang beragama hindu. pusat kerajaan ini berlokasi di pakuan ( sekarang bogor ). kerajaan pajajaran memiliki bandar-bandar penting seperti banten, sunda kelapa ( jakarta ) dan cirebon.

Kerajaan pajajaran telah mengadakan kerja sama dengan portugis. oleh kerena itu, portugis diizinkan mendirikan kantor dagang dan benteng pertahanan di sunda kelapa. untuk membendung pengaruh portugis di pajajaran, sultan trenggono dari demak memrintahkan fatahilah selaku panglima perang demak untuk menaklukan bandar-bandar pajajaran. pada tahun 1526, armada demak berhasil menguasai banten.

Pasukan fatahillah juga berhasil merebut pelabuhan sunda kelapa pada tanggal 22 juni 1527. sejak saat iru nama “sunda kelapa” diubah menjadi “jayakarta” atau “jakarta” yang berarti kota kemenanggan. tanggal itu ( 22 juni ), kemudian dijadikan hari jadi kota jakarta.
Dalam waktu singkat. seluruh pantai utara jawa barat dapat dikuasai fatahillah,agama islam lambat laun tersebar di jawa barat. fatahillah kemudian menjadi wali ( ulama besar ) dengan gelar sunan gunung jati dan berkedudukan di cirebon. Pada tahun 1552, putra fatahillah yang bernama hasanudin diangkat menjadi penguasa banten. putranya yang lain, pasarean diangkat menjadi penguasa di cirebon. fatahillah sendiri mendirikan pusat kegiatan keagamaan di gunung jati, cirebon sampai beliau wafat pada tahun  pada tahun 1568. jadi, pada awalnya kerajaan banten merupakan wilayah kekuasaan kerajaan demak.

Raja-Raja Kerajaan Banten

  • Sultan hasanuddin
Ketika terjadi perebitan kekuasaan di kerajaan demak, daerah banten dan cirebon berusaha melepaskan diri dari kekuasaan demak. akhirnya, banten dan cirebn menjadi kerajaan yang berdaulat, lepas dri pengaruh demak. sultan hasanuddin menjadi raja banten yang pertama. ia memerintah banten selama 18 tahun, yaitu tahun 1552 – 1570 M. di bawah pemerintahannya, banten berhasil menguasai lampung ( di sumatra ) yang banyak menghasilkan rempah-rempah dan selat sunda yang merupakan jalur lalu lintas perdagangan.

Selama pemerintahannya, sultan hasanuddin berhasil membangun pelabuhan banten menjadi pelabuhan yang ramai dikunjungi para pedagang dari berbagai bangsa.para pedagang dari persia, gujarat, dan venesia berusaha enghindari selat malaka yang dikuasai potugis dan beralih ke selat sunda. banten kemudian berkembang menjdi bandar perdagangan maupun pusat penyebaran agama islam. setelah sultan hasanuddin wafat pada tahun 1570 M, ia digantikan oleh putranya yaitu maulana yusuf.

  • Maulana Yusuf

Maulana yusuf memerintah banten pada tahun 1570-1580 M. pada tahun 1579, maulana yusuf menaklukan kerajaan pajajaran di pakuan ( bogor ) dan sekligus menyinggirkan rajanya yang bernama prabu sedah. akibatnya, banyk rakyat pajajaran yang menyinggir ke pegunungan. mereka inilah yang sekarang dikenal sebagai orang-orang baduy atau suku baduy di rangkasbitung banten.

  • Maulana muhammad

Setelah sultan maulana yusuf wafat,putranya yang bernama maulana muhammad naik tahta pada usia 9 tahun. karena maulana muhammad masih sangat muda, pemerintahan dijalankan mengkubumi jayanegara sampai maulana muhammad dewasa ( 1580-1596 ). enam belas tahun kemudian, sultan maulana muhammad menyerang kesultanan palembang yang di dirikan oleh ki gendeng sure, seorang bangsawan demak. kerajaan banten yang juga keturunan demam merasa berhak atas daerah palembang. akan tetapi, banten mengalami kekalahan. sultan maulana muhammad tewas dalam pertempuran itu.

  • Pangeran Ratu ( Abdul Mufakhir )

Pangeran ratu,yang berusia 5 bulan, menjadi sultan banten yang ke empat ( 1596-1651 ). sampai pangeran ,dewasa, pemerintahan dijalankan oleh mangkubumi ranamanggala. pada saat itulah untuk pertama kalinya bangsa belanda yang di pimpin oleh cornelis de houtman, mendarat di banten pada tahun 22 juni 1596. pangeran ratu mendapat gelar kanjeng ratu banten. ketika wafat, beliau digantikan oleh anaknya yang dikenal dengan nama sultan ageng tirtaayasa.

  • Sultan Ageng Tirtayasa

Sultan ageng tirtayasa memerintah banten paada tahun 1651-1682bM, kerajaan banten pada masa beliau mencapai masa kejayaan. sultan ageng tirtayasa berusaha memperluas wilayah kerajaannya ini pada tahun 1671 M, sultan ageng tirtayasa mengangkat putranya menjadi raja pembantu dengan gelar sultan abdul kahar atau sultan haji. sultan haji menjalin hubungan baik dengan belanda. melihat hal itu, sultan ageng tirtayasa kecewa dan menarik kembali jabatan raja pembantu bagi sultan haji, akan tetapi, sultan haji berusaha mempertahankan dengan meminta bantuan kepada belanda. akibatnya terjadilah perang saudara. sultan ageng tirtayasa tertangkap dan dipenjarakan di batavia hingg beliau wafat pada tahun 1691 M



Peninggalan Kerajaan Banten


Selama berkuasa kurang lebih 3 abad tersebut, kerajaan Banten meninggalkan beberapa bukti bahwa kerajaan ini pernah berjaya di pulau Jawa .Lantas, apa saja peninggalan kerajaan Banten yaitu sebagai berikut :


Masjid Agung Banten
https://sejarahdunia66.blogspot.com


Masjid Agung Banten adalah salah satu bukti peninggalan kerajaan Banten sebagai salah satu kerajaan Islam di Indonesia. Masjid yang berada di desa Banten Lama, kecamatan Kasemen ini masih berdiri kokoh sampai sekarang.

Masjid Agung Banten dibangun pada tahun 1652, tepat pada masa pemerintahan putra pertama Sunan Gunung Jati yaitu Sultan Maulana Hasanudin. Selain itu, Masjid Agung Banten juga merupakan salah satu dari 10 masjid tertua di Indonesia yang masih berdiri sampai sekarang.

Keunikan masjid ini yaitu bentuk menaranya yang mirip mercusuar dan atapnya mirip atap pagoda khas China. Selain itu, dikiri kanannya bangunan masjid tersebut ada sebuah serambi dan komplek pemakaman sultan Banten bersama keluarganya.


Istana Keraton Kaibon
https://sejarahdunia66.blogspot.com


Peninggalan kerajaan Banten yang selanjutnya yaitu bangunan Istana Keraton Kaibon. Istana ini dulunya digunakan sebagai tempat tinggal Bunda Ratu Aisyah yang merupakan ibu dari Sultan Syaifudin.

Tapi kini bangunan ini sudah hancur dan tinggal sisa-sisa runtuhannya saja, sebagai akibat dari bentrokan yang pernah terjadi antara kerajaan Banten dengan pemerintahan Belanda di nusantara pada tahun 1832.

Istana Keraton Surosowan
https://sejarahdunia66.blogspot.com


Selain Istana Keraton Kaibon, ada satu lagi peninggalan kerajaan Banten yang berupa Istana yaitu Istana Keraton Surosowan. Istana ini digunakan sebagai tempat tinggal Sultan Banten sekaligus menjadi tempat pusat pemerintahan.

Nasib istana yang dibangun pada 1552 ini juga kurang lebih sama dengan Istana Keraton Kaibon, dimana saat ini tinggal sisa-sisa runtuhan saja yang bisa kita lihat bersama dengan sebuah kolam pemandian para putri kerajaan.

Benteng Speelwijk
https://sejarahdunia66.blogspot.com


Benteng Speelwijk adalah peninggalan kerajaan Banten sebagai bentuk dalam membangun poros pertahanan maritim kekuasaan kerajaan di masa lalu. Benteng setinggi 3 meter ini dibangun pada tahun 1585.

Selain berfungsi sebagai pertahanan dari serangan laut, benteng ini juga digunakan untuk mengawasi aktivitas pelayaran di sekitar Selat Sunda. Benteng ini juga memiliki Mercusuar, dan didalamnya juga ada beberapa meriam, serta sebuah terowongan yang menghubungkan benteng tersebut dengan Istana Keraton Surosowan.


Danau Tasikardi
https://sejarahdunia66.blogspot.com


Di sekitar Istana Keraton Kaibon, ada sebuah danau buatan yaitu Danau Tasikardi yang dibuat pada tahun 1570 – 1580 pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf. Danau ini dilapisi dengan ubin dan batu bata.

Danau ini dulunya memiliki luas sekitar 5 hektar, tapi kini luasnya menyusut karena dibagian pinggirnya sudah tertimbun tanah sedimen yang dibawa oleh arus air hujan dan sungai di sekitar danau tersebut.
Danau Tasikardi pada masa itu berfungsi sebagai sumber air utama untuk keluarga kerajaan yang tinggal di Istana Keraton Kaibon dan sebagai saluran air irigasi persawahan di sekitar Banten.


Vihara Avalokitesvara
https://sejarahdunia66.blogspot.com


Walaupun kerajaan Banten adalah kerajaan Islam, tapi toleransi antara warga biasa dengan pemimpinnya dalam hal agama sangat tinggi. Buktinya adalah adanya peninggalan kerajaan Banten yang berupa bangunan tempat ibadah agama Budha.

Tempat ibadah umat Budha tersebut yaitu Vihara Avalokitesvara yang sampai sekarang masih berdiri kokoh. Yang unik dari bangunan ini yaitu di dinding Vihara tersebut ada sebuah relief yang mengisahkan tentang legenda siluman ular putih.


Meriam Ki Amuk
https://sejarahdunia66.blogspot.com


Seperti yang disebut sebelumnya, di dalam benteng Speelwijk adalah beberapa meriam, dimana diantara meriam-meriam tersebut ada meriam yang ukurannya paling besar dan diberi nama meriam ki amuk.

Dinamakan seperti itu, karena konon katanya meriam ini memiliki daya tembakan sangat jauh dan daya ledaknya sangat besar. Meriam ini adalah hasil rampasan kerajaan Banten terhadap pemerintah Belanda pada masa perang


Kehidupan Politik Kerajaan Banten


Sultan pertama Kerajaan Banten ini adalah Sultan Hasanuddin yang memerintah tahun 1522-1570. Ia adalah putra Fatahillah, seorang panglima tentara Demak yang pernah diutus oleh Sultan Trenggana menguasai bandarbandar di Jawa Barat. Pada waktu Kerajaan Demak berkuasa, daerah Banten merupakan bagian dari Kerajaan Demak. Namun setelah Kerajaan Demak mengalami kemunduran, Banten akhirnya melepaskan diri dari pengaruh kekuasaan Demak.

Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis (1511) membuat para pedagang muslim memindahkan jalur pelayarannya melalui Selat Sunda. Pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, Kerajaan Banten berkembang menjadi pusat perdagangan. Hasanuddin memperluas kekuasaan Banten ke daerah penghasil lada, Lampung di Sumatra Selatan yang sudah sejak lama mempunyai hubungan dengan Jawa Barat. Dengan demikian, ia telah meletakkan dasar-dasar bagi kemakmuran Banten sebagai pelabuhan lada. Pada tahun 1570, Sultan Hasanuddin wafat.

Penguasa Banten selanjutnya adalah Maulana Yusuf (1570-1580), putra Hasanuddin. Di bawah kekuasaannya Kerajaan Banten pada tahun 1579 berhasil menaklukkan dan menguasai Kerajaan Pajajaran (Hindu). Akibatnya pendukung setia Kerajaan Pajajaran menyingkir ke pedalaman, yaitu daerah Banten Selatan, mereka dikenal dengan Suku Badui. Setelah Pajajaran ditaklukkan, konon kalangan elite Sunda memeluk agama Islam.

Maulana Yusuf digantikan oleh Maulana Muhammad (1580-1596). Pada akhir kekuasaannya, Maulana Muhammad menyerang Kesultanan Palembang. Dalam usaha menaklukkan Palembang, Maulana Muhammad tewas dan selanjutnya putra mahkotanya yang bernama Pangeran Ratu naik takhta. Ia bergelar Sultan Abul Mufakhir Mahmud Abdul Kadir. Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaan pada masa putra Pangeran Ratu yang bernama Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682). Ia sangat menentang kekuasaan Belanda.Usaha untuk mengalahkan orang-orang Belanda yang telah membentuk VOC serta menguasai pelabuhan Jayakarta yang dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa mengalami kegagalan. Setelah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten mulai dikuasai oleh Belanda di bawah pemerintahan Sultan Haji.



Kehidupan Ekonomi Kerajaan Banten


Banten di bawah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa dapat berkembang menjadi bandar perdagangan dan pusat penyebaran agama Islam. Adapun faktor-faktornya ialah: (1) letaknya strategis dalam lalu lintas perdagangan; (2) jatuhnya Malaka ke tangan Portugis, sehingga para pedagang Islam tidak lagi singgah di Malaka namun langsung menuju Banten; (3) Banten mempunyai bahan ekspor penting yakni lada.

Banten yang menjadi maju banyak dikunjungi pedagang-pedagang dari Arab, Gujarat, Persia, Turki, Cina dan sebagainya. Di kota dagang Banten segera terbentuk perkampungan-perkampungan menurut asal bangsa itu, seperti orang-orang Arab mendirikan Kampung Pakojan, orang Cina mendirikan Kampung Pacinan, orang-orang Indonesia mendirikan Kampung Banda, Kampung Jawa dan sebagainya.



Kehidupan Sosial Dan Budaya Kerajaan Banten


Sejak Banten di-Islamkan oleh Fatahilah (Faletehan) tahun 1527, kehidupan sosial masyarakat secara berangsur- angsur mulai berlandaskan ajaran-ajaran Islam. Setelah Banten berhasil mengalahkan Pajajaran, pengaruh Islam makin kuat di daerah pedalaman. Pendukung kerajaan Pajajaran menyingkir ke pedalaman, yakni ke daerah Banten Selatan, mereka dikenal sebagai Suku Badui. Kepercayaan mereka disebut Pasundan Kawitan yang artinya Pasundan yang pertama. Mereka mempertahankan tradisi-tradisi lama dan menolak pengaruh Islam.

Kehidupan sosial masyarakat Banten semasa Sultan Ageng Tirtayasa cukup baik, karena sultan memerhatikan kehidupan dan kesejahteran rakyatnya. Namun setelah Sultan Ageng Tirtayasa meninggal, dan adanya campur tangan Belanda dalam berbagai kehidupan sosial masyarakat berubah merosot tajam. Seni budaya masyarakat ditemukan pada bangunan Masjid Agung Banten (tumpang lima), dan bangunan gapura-gapura di Kaibon Banten. Di samping itu juga bangunan istana yang dibangun oleh Jan Lukas Cardeel, orang Belanda, pelarian dari Batavia yang telah menganut agama Islam. Susunan istananya menyerupai istana raja di Eropa.



Kejayaan Kerajaan Banten


Kerajaan Banten mencapai kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682). Dimana, Banten membangun armada dengan contoh Eropa serta memberi upah kepada pekerja Eropa. Namun, Sultan Ageng Tirtayasa sangat menentang Belanda yang terbentuk dalam VOC dan berusaha keluar dari tekanan VOC yang telah memblokade kapal dagang menuju Banten. Selain itu, Banten juga melakukan monopoli Lada di Lampung yang menjadi perantara perdagangan dengan negara-negara lain sehingga Banten menjadi wilayah yang multi etnis dan perdagangannya berkembang dengan pesat.



Runtuhnya Kerajaan Banten


Kerajaan Banten mengalami kemunduruan berawal dari perselisihan antara Sultan Ageng dengan putranya, Sultan Haji atas dasar perebutan kekuasaan. Situasi ini dimanfaatkan oleh VOC dengan memihak kepada Sultan Haji. Kemudian Sultan Ageng bersama dua putranya yang lain bernama Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf terpaksa mundur dan pergi ke arah pedalaman Sunda. Namun, pada 14 Maret 1683 Sultan Ageng berhasil ditangkap dan ditahan di Batavia. Dilanjutkan pada 14 Desember 1683, Syekh Yusuf juga berhasil ditawan oleh VOC dan Pangeran purbaya akhirnya menyerahkan diri.

Atas kemenangannya itu, Sultan Haji memberikan balasan kepada VOC berupa penyerahan Lampung pada tahun 1682. Kemudian pada 22 Agustus 1682 terdapat surat perjanjian bahwa Hak monopoli perdagangan lada Lampung jatuh ketangan VOC. Sultan Haji meninggal pada tahun 1687. Setelah itu, VOC menguasai Banten sehingga pengangkatan Sultan Banten harus mendapat persetujuan Gubernur Jendral Hindian Belanda di Batavia.

Terpilihlah Sultan Abu Fadhl Muhammad Yahya sebagai pengganti Sultan Haji kemudian digantikan oleh Sultan Abul Mahasin Muhammad Zainul Aabidin. Pada tahun 1808-1810, Gubernur Hindia Jenderal Belanda menyerang Banten pada masa pemerintahan Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin.

Penyerangan tersebut akibat Sultan menolak permintaan Hindia Belanda untuk memindahkan ibu kota Banten ke Anyer. Pada akhirnya, tahun 1813 Banten telah runtuh ditangan Inggris.


Sumber : gurupendidikan.co.id